Total Tayangan Halaman

Selasa, 14 Februari 2012

Reading is Not Enough


Ada sebuah kutipan yang berbunyi “Membaca adalah jendela dunia”. Kita bisa mengetahui dan memperoleh informasi mengenai banyak hal hanya dengan membaca. Saat ini perkembangan jaman juga sangat mendukung jika seseorang ingin memperoleh suatu informasi tertentu. Dengan mengakses internet saja, kita bisa membaca banyak hal dengan mudahnya.
Membaca saja tidaklah cukup, kurang lebih seperti itulah arti dari judul di atas. Judul ini seakan-akan sedikit berlawanan dengan pernyataan bahwa membaca adalah jendela dunia. Membaca memang akan membuat seseorang mengetahui banyak hal, tetapi hanya sebatas itu saja. Akan sedikit percuma jika seseorang membaca tetapi dia tidak mengamalkan atau mempraktekkan ilmu atau informasi yang diperoleh dari membaca. Ibarat kata, tinggal menunggu waktu saja ilmu yang diperoleh hilang dan menguap tidak berbekas.
Ambil contoh, ketika seseorang duduk di bangku kuliah, setiap hari dia membaca semua buku-buku mata kuliah yang diambilnya. Dia juga rajin masuk kuliah dan mendengarkan setiap penjelasan dari dosennya. Singkat cerita, hal itu membuat dia menjadi orang yang pintar dengan Indeks Prestasi (IP) yang cukup tinggi. Akan tetapi anak ini mempunyai satu kekurangan dimana dia tidak pernah mempraktekkan ilmunya. Entah dengan membuat jurnal atau setidaknya membantu teman-teman yang kurang memahami materi yang disampaikan dalam perkuliahan. Seperti dikatakan sebelumnya, orang semacam ini tinggal menunggu waktu saja ilmunya hilang tidak berbekas.
Seseorang yang baru lulus kuliah seringkali dihadapkan pada suatu kenyataan dimana ternyata “Isi Otak” mereka kosong. Seakan-akan mereka tidak memperoleh apa-apa selama menempuh perkuliahan. Karena itulah muncul penyataan bahwa membaca saja tidaklah cukup.
Artikel ini saya buat sebagai bentuk dukungan atas keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bahwa mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 harus memublikasikan karya ilmiah sebagai syarat kelulusan. Wassalam!!!

Minggu, 12 Februari 2012

No Action, Nothing Happen. Take Action, Miracle Happen!!


Dua kalimat singkat dari seseorang yang entah saya lupa namanya siapa. Singkat kata, dua kalimat ini seperti memberi dua pilihan. Kalimat pertama ataukah kalimat kedua. Kalimat pertama pertama mewakili orang-orang yang banyak kemauan atau keinginan tapi tidak mau atau malas mengejar mimpinya. Intinya mereka tidak melakukan apa-apa untuk mewujudkan mimpinya. Tidak mau berusaha, tentu tidak akan mengubah apapun atau nothing happen.
Semua orang tentu punya mimpi ataupun keinginan. Tetapi terkadang mereka enggan untuk berusaha dan berkorban banyak hal demi mimpinya. Kebanyakan dari mereka cuma omong besar saja. Berharap keajaiban datang dan mimpinya menjadi nyata. Ada orang yang pada waktu remajanya memiliki keinginan menjadi seorang dokter, pilot atau apa sajalah, tapi tiap hari kerjaannya hanya pacaran atau online. Omong kosong!!!
Beda halnya dengan kalimat kedua, yang mewakili orang-orang yang benar-benar punya sebuah mimpi. Tentu saja tidak hanya bermimpi tapi juga membuktikan dengan perbuatan. Mereka pantang menyerah untuk mewujudkan keinginan dan mimpinya. Bahkan budget yang terbatas sekalipun tidak akan menjadi penghalang bagi mereka.
Ada sebuah cerita tentang seseorang yang bertetangga desa dengan saya. Dia itu bisa dibilang tidak mampu secara ekonomi. Bapaknya hanya bekerja sebagai tukang becak untuk menafkahi keluarga. Akan tetapi orang ini memiliki kemauan yang kuat untuk meraih mimpinya. Hingga akhirnya dia mendapat beasiswa untuk kuliah ke luar negeri.
Ketika berangkat kuliah ke luar negeri, dia cuma pamit singkat ke orang tuanya “Pak buk, saya pamit mau kuliah. Bapak ibu tidak usah kirim uang, saya mohon doanya saja”. Lucunya, orang tuanya tidak pernah tahu si anak kuliah dimana kalau tetangganya bertanya anaknya kuliah dimana. A beautiful story from my village.
Kesimpulannya, kita bisa meraih apapun kalau kita take action terhadap cita-cita atau mimpi kita. Tidak hanya diam dan menunggu miracle happen. Berbeda jika kita mau berusaha, tentu kita bisa mengubah dunia. Sedikit mengubah judul di atas. No Action, Nothing Happen. Take Action, You Can Change Your World!!! (Ini versiku)

No copy, no paste. It’s my own opinion!!!

Makna Dari Kata “Setia”


Saya punya kakek dan nenek. Sebenarnya mereka bukan orang tua dari ibu atau bapak, tapi sudah saya anggap seperti kakek dan nenek sendiri. Sekarang ini mereka sudah berumur sekitar 80 tahun, sementara usia pernikahan mereka mungkin sekitar 60 tahun. Sekilas mungkin hal itu sedikit lumrah karena banyak orang lain yang juga memiliki usia perkawinan selama itu. Tapi ada hal lain yang membuat mereka terlihat berbeda di mata saya.
Singkat cerita, mereka pasangan suami istri yang kurang mampu dari segi ekonomi. Sampai sekarang mereka juga belum dikaruniai seorang anak. Si kakek sudah 3 tahun terakhir sakit-sakitan. Matanya tidak bisa melihat lagi dan kakinya lumpuh. Jelas kakek tidak bisa menafkahi nenek lagi sehingga nenek memutuskan untuk mencari rejeki dengan menjadi seorang pemulung. Nampak kompleks sekali permasalahan hidup dalam rumah tangga mereka.
Cerita di atas sebenarnya mengandung makna yang sesungguhnya dari kata setia. Menerima setiap keadaan dari pasangan kita, tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Rela meluangkan waktu untuk menunggu, melayani dan membahagiakan pasangan. Ketika melihat nenek yang begitu setia menemani si kakek, kita pasti tahu kalau disana ada yang namanya cinta.
Suatu hari saya pernah satu bus dengan seorang perempuan yang berasal dari Kota Malang. Dia bercerita tentang suaminya yang dipenjara selama 8 tahun karena tersangkut kasus narkoba. Sang suami sendiri ditahan di Kota Surabaya. Suaminya ditahan karena menjadi pengedar narkoba. Tiap minggu dia berkunjung ke penjara untuk menemui suaminya, tidak peduli jalanan macet ataupun hujan. Si mbak berujar singkat “Sudah terlanjur cinta, ya mau gimana lagi”.
Kesimpulannya, menurut pandangan saya dalam kata setia sudah pasti ada rasa cinta. Tetapi dalam rasa cinta belum tentu seseorang mau setia. Cukup sulit untuk mengungkapkan arti dari kata setia tapi saya harap cerita singkat di atas bisa sedikit membantu. Wassalam!!!

No copy, no paste. It’s my own opinion!!!

Jumat, 03 Februari 2012

Eviews VS Stata (Ronde 1)


Eviews dan Stata bisa dibilang merupakan dua alat analisis statistik paling mutakhir saat ini. Bahkan popularitasnya sudah melebihi SPSS yang sudah terlebih dahulu dikenal oleh banyak orang. Sekarang SPSS mulai terpinggirkan dan banyak analis yang lebih memilih menggunakan Eviews dan Stata dibandingkan dengan SPSS dalam melakukan analisis statistik. Tentunya hal ini adalah fenomena yang menarik. Pertanyaan selanjutnya, mana yang terbaik antara Eviews dan Stata? Hal inilah yang ingin saya ungkapkan disini.
Eviews tentu bukan hal baru, sudah banyak orang yang mengenal alat analisis ini. Terutama banyak digunakan untuk ekonometrika terapan. Sedangkan untuk Stata, mungkin software ini masih agak asing bagi sebagian orang. Saya sedikit maklum kalau memang demikian adanya. Software Stata awalnya digunakan dalam bidang ilmu kedokteran. Gunanya tentu untuk memprediksi kondisi kesehatan seseorang.
Software untuk ilmu kedokteran kenapa bisa digunakan dalam ilmu ekonomi? Agak aneh memang. Akan tetapi mungkin bisa dijelaskan sebagai berikut. Untuk memprediksi kondisi kesehatan seseorang tentu kita tidak boleh sembarangan. Salah sedikit saja tentu bisa fatal akibatnya. Inilah yang melatarbelakangi dibuatnya Software Stata. Sebuah Software yang tentu diharapkan memberikan tingkat kesalahan yang kecil untuk memprediksi kondisi kesehatan seseorang. Hal ini tentu juga bisa diterapkan di dalam ilmu ekonomi, dimana kita bisa menganalisis atau memprediksi fenomena ekonomi dengan sebuah software yang memungkinkan kita untuk menganalisis secara tepat.
Karena keterbatasan yang saya miliki, judul ini belum bisa saya bahas secara menyeluruh. Insyaallah saya bahas di ronde-ronde berikutnya!!! Wassalam.

No copy, no paste. It’s my own opinion!!!

Kontradiksi Antara Harga Barang dan “Harga” Perempuan


Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal istilah inflasi dan deflasi. Inflasi adalah kenaikan harga barang yang terjadi dari waktu ke waktu. Sedangkan deflasi adalah turunnya harga barang dari waktu ke waktu. Sepertinya kedua pengertian di atas tidaklah asing lagi ditelinga kita.
Mungkin kita sudah sering mendengar tentang kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok yang tentunya sangat menyulitkan masyarakat. Dimana pemerintah tidak bisa mengontrol lonjakan harga barang di pasaran. Hal ini bisa dikategorikan sebagai contoh inflasi. Untuk kasus tentang deflasi, agak sulit kalau kita mencari contoh di Indonesia. Terutama dalam hal turunnya harga barang-barang kebutuhan.
Akan tetapi, beda lagi kalau kita mencari contoh deflasi dalam hal lain. Misalnya mengenai “harga” seorang perempuan, atau mungkin lebih tepatnya harga diri seorang perempuan. Kalau boleh saya bilang, sekarang ini perempuan sedang mengalami yang namanya deflasi. Harga diri mereka seakan-akan mengalami penurunan atau deflasi dari waktu ke waktu.
Kenapa bisa demikian? Hal ini bisa dibahas panjang lebar apalagi jika dilihat dari segi moral. Anak perempuan jaman sekarang sudah jauh berbeda, kesannya mereka jauh lebih MURAHAN daripada perempuan jaman dulu. Tentu tidak semua perempuan, tapi kebanyakan memanglah demikian adanya. Rasanya tidak perlu dibahas lebih jauh tentang ini, hampir semua orang tahu bagaimana moral anak-anak jaman sekarang.
Fenomena tentang deflasi yang dialami perempuan mungkin akan menarik jika dibahas secara ilmu ekonomi. Dalam ilmu ekonomi, ibaratnya laki-laki berada di sisi permintaan dan perempuan berada di sisi penawaran. Saat ini perbandingan antara jumlah laki-laki dan perempuan sudah jauh berbeda, dimana jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Artinya terjadi Excess Supply (Kelebihan Penawaran) dari sisi perempuan. Dalam teori Penyesuain Walras, ketika terjadi Excess Supply maka selanjutnya harga dari barang tersebut akan turun. Inilah yang terjadi dalam kasus perempuan. Adanya Excess Supply untuk perempuan yang berakibat turunnya “harga” mereka. Harap maklum kalau mereka menjadi sedikit lebih MURAHAN.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk melecehkan perempuan. Tapi lebih sebagai sebuah pembelajaran untuk mengkaitkan teori dalam ilmu ekonomi dengan keadaan dalam dunia nyata. Harapannya, setiap perempuan yang membaca tulisan ini bisa lebih menjaga sikapnya. Agar hipotesis dari teori Penyesuian Walras di atas bisa ditolak. Mohon maaf jika ada salah kata!!!

No Copy, no paste. It’s my own opinion!!!