Total Tayangan Halaman

Senin, 21 Mei 2012

Tentang Pamekasan


Saya berasal sebuah daerah yang bernama Pamekasan. Sebuah Kabupaten yang terletak di Pulau Madura. Sebuah daerah yang sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Ketika awal kuliah di Malang, seorang dosen pernah bertanya “Kamu berasal dari mana?”. “Pamekasan pak”, jawabku singkat. “Oh, banyak saudara kamu yang jadi tukang cukur disini”, dosenku menambahkan sambil tertawa. Saya tahu beliau hanya bercanda karena hampir semua teman kelas mendapat candaan yang hampir sama. Saya pun tidak ambil pusing dan tidak peduli orang mau bilang apa tentang Pamekasan karena saya selalu bangga menjadi orang Pamekasan.
Agak sedikit mengherankan ketika banyak orang meremehkan Pamekasan. Seolah-olah mereka tahu banyak hal tentang daerahku tercinta sehingga mereka bisa men-judge bahwa Pamekasan merupakan kota yang buruk. Tak kenal maka tak sayang. Sebenarnya mereka tidak banyak tahu tentang Pamekasan makanya mereka memandang sebelah mata. Ketika masih kelas 3 SMA, seorang guru yang berasal dari Malang pernah bilang “Orang Pamekasan itu baik banget rek, beda sama orang kebanyakan di Malang. Makanya saya paling tidak terima ketika saya pulang kampung dan ada orang yang mengecap buruk orang Pamekasan”. Salah satu bukti nyata bahwa orang Pamekasan tidak seburuk yang dikira.
Ada juga yang beranggapan bahwa orang Pamekasan sangat identik dengan kebodohan. Mungkin orang itu jarang baca koran atau nonton tv. Beberapa kali siswa asal Pamekasan mewakili Indonesia di olimpiade internasional dan meraih medali emas, kalau tidak salah olimpiade fisika. Hal inilah yang membuat Pamekasan diakui pemerintah sebagai Kabupaten Pendidikan.
Saya akui sarana pendidikan di Pamekasan kurang memadai, khususnya untuk level perguruan tinggi. Akan tetapi, dengan segala kekurangannya Pamekasan bisa berprestasi di level internasional dan diakui sebagai Kabupaten Pendidikan. Bagaimana kalau sarana pendidikan yang tersedia sangat memadai? Mungkin saja suatu saat Kabupaten Pamekasan bisa satu level dengan kota pendidikan seperti Surabaya dan Malang. Terus terang, itu cita-cita saya pribadi.
Pamekasan, I can’t stop loving you!!!

Exchange Rate Economics (John Williamson)


Selama bertahun-tahun ahli ekonomi mengesampingkan pentingnya nilai tukar dalam segi pengambilan kebijakan pembangunan. Mereka berpandangan bahwa negara paling berkembang secara prinsip mengekspor produk utama yang permintaannya bersifat inelastis. Sedangkan permintaan mereka sendiri untuk barang impor bisa dikurangi dengan indutrialisasi. Menurut ahli ekonomi, kebijakan pembangunan harus fokus pada ekonomi yang sebenarnya, bukan pada variabel non-moneter seperti nilai tukar.
Berbeda dengan saat ini dimana tingkat nilai tukar diakui sebagai penghubung yang penting antara ekonomi sebuah negara dengan ekonomi internasional. Oleh karena itu, banyak perhatian dicurahkan untuk menganalisis apa yang benar-benar mempengaruhi nilai tukar dan bagaimana pemerintah ingin memaksimalkan tingkat pertumbuhan negaranya dengan mengikuti isu mengenai apa yang mempengaruhi tingkat nilai tukar.
Ekonomi nilai tukar utamanya bertujuan untuk memahami apa yang mempengaruhi tingkatannya, atau setidaknya perubahannya dalam tingkat nilai tukar bebas. Kebanyakan dari tulisan ini dicurahkan untuk menjelaskan secara terperinci mengenai model standar dari nilai tukar yang diterima oleh banyak ahli ekonomi sekarang. Tingkat nilai tukar sebagai aset yang berpandangan ke depan. Artinya tingkat nilai tukar bebas bergantung pada apa yang diharapkan untuk terjadi di masa depan lebih dari semata-mata apa yang terjadi saat ini atau apa yang terjadi di masa lalu.
Tulisan ini menampilkan sejumlah kritik terhadap model standar bahwa tingkat nilai tukar berubah karena didorong oleh pemberitaan dan akan menjadi hampa dengan ketiadaan berita bahwa itu menyatakan secara tidak langsung para peramal harga saham secara sistematik akan kehilangan banyak uang. Atau mungkin bahwa tidak ada kemungkinan untuk terjadinya dinamika “bubble dan crash”, yang mana tampak akan terjadi. Disini model standar dikritik memiliki implikasi empiris dimana mereka berdasar pada asumsi bahwa tingkat nilai tukar merespon secara sistematik untuk berubah secara fundamental. Variabel-variabel yang dipertimbangkan untuk mempengaruhi nilai tukar hanya tergantung pada model yang telah dibentuk.
         Tulisan ini kemudian berpendapat bahwa penilaian yang berlebih bisa menghalangi perkembangan melalui serangan “Dutch disease”, dan mendiskusikan peran dimana kebijakan tingkat nilai tukar digunakan dalam menghindari akibat semacam ini. Hal ini menuntut terutama untuk penggunaan instrumen non-moneter seperti kebijakan fiskal atau pengontrolan modal, tetapi perilaku model dari tingkat nilai tukar menyatakan secara tidak langsung bahwa intervensi juga bisa memainkan peran. Tulisan ini juga memasukkan diskusi mengenai sebuah alternatif untuk rezim nilai tukar yang telah ada.

- Diskusi
Model standar memiliki banyak keterbatasan karena hanya memprediksi berdasarkan tren data di masa lalu. Sebaik apa pun suatu model standar, tetap saja belum tentu bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Model standar mengasumsikan bahwa tingkat nilai tukar merespon secara sistematik untuk berubah berdasarkan fundamentalnya. Sebaliknya mereka memprediksi bahwa tingkat nilai tukar tidak akan berubah jika tidak ada berita untuk mendorong perubahan terhadap variabel-variabel yang telah diperkirakan akan mempengaruhi tingkat nilai tukar. Variabel-variabel yang dipertimbangkan hanya tergantung pada model yang telah dibentuk.
Tingkat nilai tukar adalah aset yang berpandangan ke depan. Artinya tingkat nilai tukar bebas bergantung pada apa yang diharapkan untuk terjadi di masa depan lebih dari semata-mata apa yang terjadi saat ini atau apa yang terjadi di masa lalu. Padahal, menentukan ekspektasi atau harapan sekian banyak orang akan nilai tukar di masa yang akan datang tentu bukan hal mudah atau bahkan mungkin tidak diprediksi.
 

Stata Vs Eviews (Ronde 2)

Pada tulisan sebelumnya saya memiliki rencana untuk melakukan perbandingan antara stata dan eviews. Tapi sepertinya sekarang saya mulai berubah pikiran karena sejumlah alasan. Stata dan eviews seringkali digunakan dalam membuat permodelan (regresi) untuk memprediksi besaran variabel dependen di masa yang akan datang. Masalahnya adalah prediksi yang dilakukan seringkali meleset bahkan samasekali tidak mendekati kenyataan. Dengan kata lain model yang diperoleh (hasil regresi stata dan eviews) gagal menjalankan fungsinya.
Dalam sebuah perkuliahan, dosen saya (Prof. Munawar Ismail) berkata bahwa kita tidak bisa mengambil sebuah kebijakan hanya berdasar pada sebuah model. Kita harus siap-siap kecewa karena model sering gagal dalam melakukan prediksi. Pendapat ini seperti mendapat dukungan dari John Williamson dalam tulisannya yang berjudul “Exchange Rate Economics”. Dalam tulisannya dia menyampaikan kritik bahwa model standar tidak mampu memprediksi tingkat nilai tukar mata uang dengan benar. Alasannya karena tingkat nilai tukar adalah aset yang berpandangan ke depan. Artinya tingkat nilai tukar bebas bergantung pada apa yang diharapkan (ekspektasi) untuk terjadi di masa depan lebih dari semata-mata apa yang terjadi saat ini atau apa yang terjadi di masa lalu.
Konsep ekspektasi mulai sering dikaitkan untuk memprediksi nilai suatu variabel di masa yang akan datang. Selain dalam nilai tukar, konsep ekspektasi juga digunakan dalam permodelan fungsi konsumsi dimana dijelaskan bahwa konsumsi tidak hanya dipengaruhi pendapatan saat ini tetapi juga dipengaruhi ekspektasi pendapatan di masa yang akan datang. Dan masih banyak lagi permodelan yang menggunakan konsep ekspektasi.
Masalahnya, ekspektasi sulit diwujudkan dalam sebuah angka karena akan membutuhkan banyak waktu untuk menanyakan pada semua orang mengenai apa yang diharapkan terjadi di masa yang akan datang. Padahal menurut saya, ekspektasi merupakan variabel yang sangat penting untuk memprediksi besaran variabel lain di masa yang akan datang. Regresi untuk memperoleh permodelan sendiri hanya menggunakan data saat ini dan masa lalu. Oleh karena itu, tidak heran model sering gagal dalam memprediksi. Kasarnya kita bisa bilang kalau model itu hanya omong kosong saja. Selanjutnya, apa perlu kita mempelajari stata dan eviews? Jawabannya kembali pada pendapat kalian sendiri! ;)