Total Tayangan Halaman

Jumat, 03 Februari 2012

Kontradiksi Antara Harga Barang dan “Harga” Perempuan


Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal istilah inflasi dan deflasi. Inflasi adalah kenaikan harga barang yang terjadi dari waktu ke waktu. Sedangkan deflasi adalah turunnya harga barang dari waktu ke waktu. Sepertinya kedua pengertian di atas tidaklah asing lagi ditelinga kita.
Mungkin kita sudah sering mendengar tentang kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok yang tentunya sangat menyulitkan masyarakat. Dimana pemerintah tidak bisa mengontrol lonjakan harga barang di pasaran. Hal ini bisa dikategorikan sebagai contoh inflasi. Untuk kasus tentang deflasi, agak sulit kalau kita mencari contoh di Indonesia. Terutama dalam hal turunnya harga barang-barang kebutuhan.
Akan tetapi, beda lagi kalau kita mencari contoh deflasi dalam hal lain. Misalnya mengenai “harga” seorang perempuan, atau mungkin lebih tepatnya harga diri seorang perempuan. Kalau boleh saya bilang, sekarang ini perempuan sedang mengalami yang namanya deflasi. Harga diri mereka seakan-akan mengalami penurunan atau deflasi dari waktu ke waktu.
Kenapa bisa demikian? Hal ini bisa dibahas panjang lebar apalagi jika dilihat dari segi moral. Anak perempuan jaman sekarang sudah jauh berbeda, kesannya mereka jauh lebih MURAHAN daripada perempuan jaman dulu. Tentu tidak semua perempuan, tapi kebanyakan memanglah demikian adanya. Rasanya tidak perlu dibahas lebih jauh tentang ini, hampir semua orang tahu bagaimana moral anak-anak jaman sekarang.
Fenomena tentang deflasi yang dialami perempuan mungkin akan menarik jika dibahas secara ilmu ekonomi. Dalam ilmu ekonomi, ibaratnya laki-laki berada di sisi permintaan dan perempuan berada di sisi penawaran. Saat ini perbandingan antara jumlah laki-laki dan perempuan sudah jauh berbeda, dimana jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Artinya terjadi Excess Supply (Kelebihan Penawaran) dari sisi perempuan. Dalam teori Penyesuain Walras, ketika terjadi Excess Supply maka selanjutnya harga dari barang tersebut akan turun. Inilah yang terjadi dalam kasus perempuan. Adanya Excess Supply untuk perempuan yang berakibat turunnya “harga” mereka. Harap maklum kalau mereka menjadi sedikit lebih MURAHAN.
Tulisan ini tidak bertujuan untuk melecehkan perempuan. Tapi lebih sebagai sebuah pembelajaran untuk mengkaitkan teori dalam ilmu ekonomi dengan keadaan dalam dunia nyata. Harapannya, setiap perempuan yang membaca tulisan ini bisa lebih menjaga sikapnya. Agar hipotesis dari teori Penyesuian Walras di atas bisa ditolak. Mohon maaf jika ada salah kata!!!

No Copy, no paste. It’s my own opinion!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar