Total Tayangan Halaman

Senin, 21 Mei 2012

Exchange Rate Economics (John Williamson)


Selama bertahun-tahun ahli ekonomi mengesampingkan pentingnya nilai tukar dalam segi pengambilan kebijakan pembangunan. Mereka berpandangan bahwa negara paling berkembang secara prinsip mengekspor produk utama yang permintaannya bersifat inelastis. Sedangkan permintaan mereka sendiri untuk barang impor bisa dikurangi dengan indutrialisasi. Menurut ahli ekonomi, kebijakan pembangunan harus fokus pada ekonomi yang sebenarnya, bukan pada variabel non-moneter seperti nilai tukar.
Berbeda dengan saat ini dimana tingkat nilai tukar diakui sebagai penghubung yang penting antara ekonomi sebuah negara dengan ekonomi internasional. Oleh karena itu, banyak perhatian dicurahkan untuk menganalisis apa yang benar-benar mempengaruhi nilai tukar dan bagaimana pemerintah ingin memaksimalkan tingkat pertumbuhan negaranya dengan mengikuti isu mengenai apa yang mempengaruhi tingkat nilai tukar.
Ekonomi nilai tukar utamanya bertujuan untuk memahami apa yang mempengaruhi tingkatannya, atau setidaknya perubahannya dalam tingkat nilai tukar bebas. Kebanyakan dari tulisan ini dicurahkan untuk menjelaskan secara terperinci mengenai model standar dari nilai tukar yang diterima oleh banyak ahli ekonomi sekarang. Tingkat nilai tukar sebagai aset yang berpandangan ke depan. Artinya tingkat nilai tukar bebas bergantung pada apa yang diharapkan untuk terjadi di masa depan lebih dari semata-mata apa yang terjadi saat ini atau apa yang terjadi di masa lalu.
Tulisan ini menampilkan sejumlah kritik terhadap model standar bahwa tingkat nilai tukar berubah karena didorong oleh pemberitaan dan akan menjadi hampa dengan ketiadaan berita bahwa itu menyatakan secara tidak langsung para peramal harga saham secara sistematik akan kehilangan banyak uang. Atau mungkin bahwa tidak ada kemungkinan untuk terjadinya dinamika “bubble dan crash”, yang mana tampak akan terjadi. Disini model standar dikritik memiliki implikasi empiris dimana mereka berdasar pada asumsi bahwa tingkat nilai tukar merespon secara sistematik untuk berubah secara fundamental. Variabel-variabel yang dipertimbangkan untuk mempengaruhi nilai tukar hanya tergantung pada model yang telah dibentuk.
         Tulisan ini kemudian berpendapat bahwa penilaian yang berlebih bisa menghalangi perkembangan melalui serangan “Dutch disease”, dan mendiskusikan peran dimana kebijakan tingkat nilai tukar digunakan dalam menghindari akibat semacam ini. Hal ini menuntut terutama untuk penggunaan instrumen non-moneter seperti kebijakan fiskal atau pengontrolan modal, tetapi perilaku model dari tingkat nilai tukar menyatakan secara tidak langsung bahwa intervensi juga bisa memainkan peran. Tulisan ini juga memasukkan diskusi mengenai sebuah alternatif untuk rezim nilai tukar yang telah ada.

- Diskusi
Model standar memiliki banyak keterbatasan karena hanya memprediksi berdasarkan tren data di masa lalu. Sebaik apa pun suatu model standar, tetap saja belum tentu bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Model standar mengasumsikan bahwa tingkat nilai tukar merespon secara sistematik untuk berubah berdasarkan fundamentalnya. Sebaliknya mereka memprediksi bahwa tingkat nilai tukar tidak akan berubah jika tidak ada berita untuk mendorong perubahan terhadap variabel-variabel yang telah diperkirakan akan mempengaruhi tingkat nilai tukar. Variabel-variabel yang dipertimbangkan hanya tergantung pada model yang telah dibentuk.
Tingkat nilai tukar adalah aset yang berpandangan ke depan. Artinya tingkat nilai tukar bebas bergantung pada apa yang diharapkan untuk terjadi di masa depan lebih dari semata-mata apa yang terjadi saat ini atau apa yang terjadi di masa lalu. Padahal, menentukan ekspektasi atau harapan sekian banyak orang akan nilai tukar di masa yang akan datang tentu bukan hal mudah atau bahkan mungkin tidak diprediksi.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar